paalmerah.com – Setiap kali terjadi bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan pemerintah menyebutnya dengan kata “bencana alam” yang diakibatkan oleh cuaca dan sebagainya. Penjelasan ini memang masuk akal dari semua kejadian itu jika dikatakan menjadi bencana alam tetapi apakah pemerintah sadar bahwasanya kejadian ini berulang di tempat yang sama sudah semestinya pemerintah melakukan pencegahan bencana alam tapi nyatanya tidak, masyarakat perlu mempertanyakan peran pemerintah dalam mencegah dan mengurangi dampak dari bencana alam.

Banjir bandang dan longsor yang melanda sumatra dan aceh dalam beberapa minggu terakhir bukan lagi sekedar “peristiwa alam”yang datang tanpa aba-aba. Sebelumnya BMKG sudah memberikan peringatan dini ke pemda sebelum terjadinya banjir dan longsor di sumatera seperti di beberapa berita yang beredar. Namun sayangnya peringatan ini sepertinya hanya dianggap angin yang berlalu bukannya membuat pencegehan untuk bencana tetapi ironisnya banyak terjadi alih fungsi lahan yang tidak terkendali,penebangan hutan, serta pembangunan yang mengabaikan tata ruang telah merusak keseimbangan lingkungan. Daerah resapan air berkurang, dan lingkungan kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan air. Ketika hujan turun banjir pun menjadi hal yang tidak dapat dielakkan.
Wenny Desta Amelia Mahasiswa Universitas jambi menyampaikan bahwasanya.”Di sinilah peran pemerintah seharusnya hadir, pemerintah tidak hanya bertugas menangani bencana setelah terjadi, tetapi juga melakukan pencegahan. Namun faktanya sekarang pemerintah tidak ada mengambil tindakan untuk bencana yang terjadi, disini kita perlu mempertanyakan dimana peran pemerintah sebenarnya.” Ujar Wenny Desta Amelia.
Masalah lainnya yang sering muncul adalah lemahnya kesiapsiagaan. Proses evakuasi pun sering berjalan dengan lambat, sementara bantuan tidak selalu tepat sasaran kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem penanggulan bencana belum dikelola secara serius dan menyeluruh. Bencana alam memang tidak bisa sepenuhnya dicegah namun, dampaknya bisa dikurangi jika pemerintah bekerja dengan sungguh sungguh. Ketika kerugian dan korban terus bertambah setiap tahun, jelas ada kesalahan yang belum diperbaiki, jika menyalahkan alam saja berarti pemerintah menutup mata terhadap kegagalan kebijakan dan lemahnya pengawasan.
“Kita juga harus melihat dalam bentuk konteks yang luas yang mana seperti kita ketahui bahwa negara kita indonesia adalah sebagai negara rawan bencana karena letak geografisnya di cincin api pasifik. Melihat dari negara-negara lain seperti jepang atau belanda berhasil mengurangi dampak banjir dan gempa melalui investasi jangka panjang, jepang memiliki sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan evakuasi otomastis, sementara belanda membangun delta works untuk menahan banjir, lalu kenapa indonesia tidak berkaca dari negara lain?, untuk melakukan pencegahan.” Ujar Wenny Desta Amelia
Menurut saya untuk mengubah ini pemerintah perlu mereformasi kebijakan secara menyeluruh, mulai dari perkuat penegakkan hukum terhadap pelaku deforestasi dengan membentuk satgas khusus yang independen tanpa adanya pengaruh dari politik. Lalu berkaca atau melihat contoh dari negara negara lain yang mana negara tersebut melakukan pencegahan dengan baik, menggunakan anggaran dengan bijak lalu memberikan pendidikan atau sosialisasi mengenai bencana alam agar masyarakat memahami dan memiliki pemikiran tersendiri untuk patuh atau mengikuti perintah dari pemerintah, tidak seperti yang terjadi di negara kita ini masi banyak masyarakat yang belum memahami peringatan-peringatan yang di sampaikan bahkan sampai ada yang mengatakan bahwasnya peringatan tersebut hanya membuat panik saja, dari sini lah pemerintah perlu memberikan sosialisasi dan membangun kepercayaan masyarakat.










Discussion about this post