paalmerah.com – Ada satu bagian dari pidato KDM di forum KAHMI yang menurut saya justru lebih menarik daripada cerita bahwa dirinya pernah menjadi kader HMI. KDM tidak sekadar bernostalgia dengan organisasi tempat ia pernah belajar. Ia justru memberikan kritik dari dalam: jangan sampai HMI terlalu sibuk berbicara dalam bahasa akademik dan bahasa langit, tetapi lupa bagaimana berbicara dengan masyarakat di bumi.

Menurut KDM, salah satu persoalannya adalah ketika gagasan besar hanya berputar di antara orang-orang yang sudah memahami istilahnya. Diskusi tentang demokrasi, keadilan sosial, ekonomi kerakyatan, pembangunan berkelanjutan, sampai peradaban bisa terdengar sangat hebat di ruang seminar. Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah Mak Icih di kampung mengerti apa yang sedang kita perjuangkan?
KDM bahkan menggunakan ungkapan yang sangat sederhana: “Teu bisa ngomong jeung Mak Icih.” Tidak bisa berbicara dengan Mak Icih. Bagi saya, ini bukan sekadar guyonan khas KDM. Ini justru kritik yang cukup dalam terhadap cara kita memandang perubahan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah gagasan bukan hanya seberapa pintar gagasan itu terdengar. Ukurannya juga adalah apakah gagasan tersebut bisa dipahami oleh masyarakat dan kemudian memberikan manfaat dalam kehidupan mereka. Kalau masyarakat tidak mengerti, lalu siapa yang sebenarnya sedang kita ajak berubah?
Kita sering senang dengan istilah-istilah besar. Bicara transformasi, revolusi mental, demokratisasi, ekonomi inklusif, pembangunan berkelanjutan, bahkan membangun peradaban. Semua terdengar luar biasa. Tetapi ketika pulang ke kampung, masyarakat masih bertanya: “Jadi, naon nu kudu urang lakukeun?”
Nah, di situlah intelektualitas diuji. Bukan ketika kita bisa menjelaskan sesuatu dengan istilah yang rumit, tetapi ketika kita mampu menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Orang pintar bukan hanya yang bisa membuat orang lain kagum, tetapi juga yang mampu membuat orang biasa mengerti.
Itulah sebabnya saya tertarik ketika KDM menjelaskan alasan dirinya menggunakan nama “Haji Udin.” Ia mengaitkannya dengan filosofi Semar, sosok yang dalam pewayangan memiliki kedudukan tinggi tetapi memilih hadir sebagai rakyat biasa. Pesannya sederhana: jangan terlalu sibuk mengejar tempat tertinggi sampai lupa turun ke tempat di mana perubahan benar-benar dibutuhkan.
Kalau saya menangkap maksud KDM, kritik itu sebenarnya bukan hanya untuk HMI. Ini juga kritik untuk banyak orang yang pernah belajar tinggi, kemudian hidup di dalam lingkaran orang-orang pintar. Kita sering merasa sudah membahas persoalan rakyat hanya karena sudah berdiskusi tentang rakyat. Padahal rakyatnya sendiri mungkin belum pernah kita dengarkan.
HMI tentu memiliki tradisi intelektual yang panjang. Justru karena tradisi itulah kritik seperti ini layak diterima sebagai bahan bercermin. Intelektualitas bukan masalah yang harus dikurangi, tetapi harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dipahami dan dikerjakan masyarakat.
Sebab ilmu yang hanya berputar di ruang seminar lama-lama menjadi koleksi. Gagasan yang hanya berhenti di makalah menjadi arsip. Tetapi ketika ilmu turun ke kampung, masuk ke sekolah, membantu petani, mendampingi nelayan, menyelesaikan persoalan warga, dan membuat kehidupan seseorang sedikit lebih baik, di situlah pengetahuan mulai punya kaki.
Mungkin ini yang dimaksud KDM ketika mengkritik “bahasa langit”. Bukan berarti kita tidak boleh berbicara tentang hal-hal besar. Silakan bicara tentang peradaban setinggi langit, tetapi setelah itu turunkan bahasanya sampai Mak Icih bisa mengerti.
Karena kalau ingin mengubah masyarakat, kita tidak bisa hanya berbicara kepada orang-orang yang sudah sepemikiran. Kita harus mampu berbicara kepada orang yang berbeda pendidikan, berbeda latar belakang, berbeda bahasa, bahkan mungkin tidak pernah membaca buku yang kita baca. Kalau mereka mengerti, mereka bisa ikut bergerak.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling menarik dari kritik KDM kepada HMI: jangan hanya menjadi orang yang paling pintar menjelaskan bagaimana Indonesia harus berubah. Jadilah orang yang mampu membuat perubahan itu benar-benar dirasakan oleh orang Indonesia.
Bahasa langit boleh tinggi. Tetapi perubahan harus punya kaki di bumi. Kalau mau mengubah peradaban, jangan terlalu lama tinggal di kayangan. Turunlah ke kampung. Temui Mak Icih. Dengarkan dia. Baru bicara tentang perubahan.









Discussion about this post