Sabtu, 15 Agustus 2026
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
PaalMerah.com
  • Home
  • Berita
  • Kriminal
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Viral
  • Advertorial
  • OPINI
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Kriminal
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Viral
  • Advertorial
  • OPINI
No Result
View All Result
PaalMerah.com

KDM Kritik HMI: Jangan Bicara Bahasa Langit Kalau Mak Icih Tidak Mengerti, Oleh: Adrian 

Editor by Editor
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:35 |
in OPINI
0
KDM Kritik HMI: Jangan Bicara Bahasa Langit Kalau Mak Icih Tidak Mengerti, Oleh: Adrian 
0
SHARES
2
VIEWS
BagikanKirimKirimTweet

paalmerah.com – Ada satu bagian dari pidato KDM di forum KAHMI yang menurut saya justru lebih menarik daripada cerita bahwa dirinya pernah menjadi kader HMI. KDM tidak sekadar bernostalgia dengan organisasi tempat ia pernah belajar. Ia justru memberikan kritik dari dalam: jangan sampai HMI terlalu sibuk berbicara dalam bahasa akademik dan bahasa langit, tetapi lupa bagaimana berbicara dengan masyarakat di bumi.

Menurut KDM, salah satu persoalannya adalah ketika gagasan besar hanya berputar di antara orang-orang yang sudah memahami istilahnya. Diskusi tentang demokrasi, keadilan sosial, ekonomi kerakyatan, pembangunan berkelanjutan, sampai peradaban bisa terdengar sangat hebat di ruang seminar. Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah Mak Icih di kampung mengerti apa yang sedang kita perjuangkan?

KDM bahkan menggunakan ungkapan yang sangat sederhana: “Teu bisa ngomong jeung Mak Icih.” Tidak bisa berbicara dengan Mak Icih. Bagi saya, ini bukan sekadar guyonan khas KDM. Ini justru kritik yang cukup dalam terhadap cara kita memandang perubahan.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah gagasan bukan hanya seberapa pintar gagasan itu terdengar. Ukurannya juga adalah apakah gagasan tersebut bisa dipahami oleh masyarakat dan kemudian memberikan manfaat dalam kehidupan mereka. Kalau masyarakat tidak mengerti, lalu siapa yang sebenarnya sedang kita ajak berubah?

Kita sering senang dengan istilah-istilah besar. Bicara transformasi, revolusi mental, demokratisasi, ekonomi inklusif, pembangunan berkelanjutan, bahkan membangun peradaban. Semua terdengar luar biasa. Tetapi ketika pulang ke kampung, masyarakat masih bertanya: “Jadi, naon nu kudu urang lakukeun?”

Nah, di situlah intelektualitas diuji. Bukan ketika kita bisa menjelaskan sesuatu dengan istilah yang rumit, tetapi ketika kita mampu menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang sederhana. Orang pintar bukan hanya yang bisa membuat orang lain kagum, tetapi juga yang mampu membuat orang biasa mengerti.

Itulah sebabnya saya tertarik ketika KDM menjelaskan alasan dirinya menggunakan nama “Haji Udin.” Ia mengaitkannya dengan filosofi Semar, sosok yang dalam pewayangan memiliki kedudukan tinggi tetapi memilih hadir sebagai rakyat biasa. Pesannya sederhana: jangan terlalu sibuk mengejar tempat tertinggi sampai lupa turun ke tempat di mana perubahan benar-benar dibutuhkan.

Kalau saya menangkap maksud KDM, kritik itu sebenarnya bukan hanya untuk HMI. Ini juga kritik untuk banyak orang yang pernah belajar tinggi, kemudian hidup di dalam lingkaran orang-orang pintar. Kita sering merasa sudah membahas persoalan rakyat hanya karena sudah berdiskusi tentang rakyat. Padahal rakyatnya sendiri mungkin belum pernah kita dengarkan.

HMI tentu memiliki tradisi intelektual yang panjang. Justru karena tradisi itulah kritik seperti ini layak diterima sebagai bahan bercermin. Intelektualitas bukan masalah yang harus dikurangi, tetapi harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dipahami dan dikerjakan masyarakat.

Sebab ilmu yang hanya berputar di ruang seminar lama-lama menjadi koleksi. Gagasan yang hanya berhenti di makalah menjadi arsip. Tetapi ketika ilmu turun ke kampung, masuk ke sekolah, membantu petani, mendampingi nelayan, menyelesaikan persoalan warga, dan membuat kehidupan seseorang sedikit lebih baik, di situlah pengetahuan mulai punya kaki.

Mungkin ini yang dimaksud KDM ketika mengkritik “bahasa langit”. Bukan berarti kita tidak boleh berbicara tentang hal-hal besar. Silakan bicara tentang peradaban setinggi langit, tetapi setelah itu turunkan bahasanya sampai Mak Icih bisa mengerti.

Karena kalau ingin mengubah masyarakat, kita tidak bisa hanya berbicara kepada orang-orang yang sudah sepemikiran. Kita harus mampu berbicara kepada orang yang berbeda pendidikan, berbeda latar belakang, berbeda bahasa, bahkan mungkin tidak pernah membaca buku yang kita baca. Kalau mereka mengerti, mereka bisa ikut bergerak.

Dan mungkin di situlah pelajaran paling menarik dari kritik KDM kepada HMI: jangan hanya menjadi orang yang paling pintar menjelaskan bagaimana Indonesia harus berubah. Jadilah orang yang mampu membuat perubahan itu benar-benar dirasakan oleh orang Indonesia.

Bahasa langit boleh tinggi. Tetapi perubahan harus punya kaki di bumi. Kalau mau mengubah peradaban, jangan terlalu lama tinggal di kayangan. Turunlah ke kampung. Temui Mak Icih. Dengarkan dia. Baru bicara tentang perubahan.

Tags: AdrianKAHMIKDM
Previous Post

Lebih dari Sekadar Edukasi, PTPN IV Regional IV Bangun Embung Strategis Tangkal Karhutla di Tanjab Timur

Next Post

Festival Batanghari 2026 Kembali Masuk KEN, Angkat Sejarah Jalur Rempah Sungai Batanghari

Next Post
Festival Batanghari 2026 Kembali Masuk KEN, Angkat Sejarah Jalur Rempah Sungai Batanghari

Festival Batanghari 2026 Kembali Masuk KEN, Angkat Sejarah Jalur Rempah Sungai Batanghari

Discussion about this post

Berita Terbaru

  • Festival Batanghari 2026 Kembali Masuk KEN, Angkat Sejarah Jalur Rempah Sungai Batanghari 15 Agustus 2026
  • KDM Kritik HMI: Jangan Bicara Bahasa Langit Kalau Mak Icih Tidak Mengerti, Oleh: Adrian  15 Agustus 2026
  • Lebih dari Sekadar Edukasi, PTPN IV Regional IV Bangun Embung Strategis Tangkal Karhutla di Tanjab Timur 15 Agustus 2026
  • Gubernur Al Haris Bersama Forkopimda Jambi Ikuti Pidato Presiden RI dan Ketua DPR RI di Ruang Utama DPRD Provinsi 14 Agustus 2026
  • Catat Kinerja Positif, Produksi TBS PTPN IV Regional IV Tembus 244 Ribu Ton di Semester I 2026 13 Agustus 2026

Berita Terpopuler

  • Sejarah Mapala dan Daftar Lengkap Seluruh Indonesia

    Sejarah Mapala dan Daftar Lengkap Seluruh Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pendaftaran Beasiswa Pemprov Jambi Dibuka. Cek Syarat dan Linknya Disini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hasil RDP Komisi V DPR RI Menyimpulkan Operasional Batu Bara Dihentikan Total

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Akan Ambil Langkah Hukum, Terkait Postingan Akun Info seputar Jambi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Jambi Luncurkan Beasiswa Pro-Jambi Cerdas. Beasiswa S1, S2 dan S3 untuk Mahasiswa Tidak Mampu dan Berprestasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

LPKNI

Teh Kayu Aro & Kopi Royal Aro

SELAMAT Dan SUKSES

Sinergi

Facebook Twitter

PT Hadi Media Perkasa

Perum Villa Sentosa Indah
Jalan Sentosa 7 No 25 RT 30, Kel. Bakung Jaya, Kec. Paal Merah, Kota Jambi
Phone: +62 895-3293-75641
Email: hadimediaperkasa@gmail.com

Redaksi | Kode Etik | Pedoman Media Siber

Network

  • Angsoduo.net
  • Jambiflash.com
  • Jambiseru.com
  • Kerinciexpose.com
  • Koranjambi.com
  • SeruTV.com

© 2022 Paalmerah.com | Developed by Websiteku - Onlinekan Sukses-mu!.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Kriminal
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Hiburan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Viral
  • Advertorial
  • OPINI

© 2022 Paalmerah.com | Developed by Websiteku - Onlinekan Sukses-mu!.