Paalmerah.com — Air bukan sekadar unsur kehidupan. Ia mengalir, menyucikan, sekaligus menjadi saksi perjalanan manusia. Filosofi inilah yang diangkat sutradara Taufik Hidayat Rusti dalam film panjang fiksi berjudul Mantagi: Air dan Manusia yang resmi ditayangkan perdana di Taman Budaya Jambi, Selasa (17/2).
Film berdurasi 90 menit ini memotret relasi mendalam antara manusia dan air melalui pendekatan spiritualitas serta kesadaran lingkungan. Mengambil latar dari hulu hingga hilir Sungai Batanghari, alur cerita bergerak dari Danau Gunung Tujuh, Desa Lubuk Nagodang, Merangin di Desa Air Batu, hingga Kompleks Percandian Muaro Jambi dan Teluk Majelis. Film berbentuk antologi ini merangkai empat babak dalam satu benang merah.

Taufik menyebut, “Mantagi” merupakan istilah lama yang merujuk pada kesadaran batin dan budi pekerti. Kata tersebut, menurutnya, dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan ragam bahasa, namun memiliki makna serupa apa yang ada di dalam diri manusia.
“Mantagi itu tentang kesadaran. Air dan manusia memiliki ikatan yang mendalam. Film ini menjadi penyadaran, bukan hanya bagi penonton, tetapi juga bagi saya sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan, gagasan yang diangkat bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan mengajak merenung. Terinspirasi nilai-nilai agama samawi yang memandang air sebagai sumber kehidupan, sarana bersuci, doa hingga penyembuhan, film ini hadir dengan balutan spiritual dan misteri.
Proses kreatifnya diawali dengan diskusi kelompok terarah (FGD) bersama tokoh dari Medan, Bengkulu, hingga Yogyakarta. Workshop juga digelar di kawasan Percandian Muaro Jambi dengan melibatkan masyarakat setempat. Tahap produksi berlangsung selama satu bulan penuh, dengan pengambilan gambar di Kerinci, Muaro Jambi, Merangin, hingga Tanjabtim. Para pemeran mendalami karakter selama kurang lebih tiga bulan.
Film berbentuk antologi ini merangkai lima cerita pendek dalam satu benang merah. Husni Thamrin yang memerankan Mister X tokoh utama mengaku perannya cukup menguras energi. Baginya, Mister X adalah representasi manusia yang berupaya mengendalikan hasratnya.
“Mantagi sendiri bagi saya punya makna yang mendalam. Prosesnya panjang dan emosional, terutama saat pengambilan adegan di Danau Gunung Tujuh,” katanya.
Wo Azhar, pemeran Kakek (Nyantan), menyampaikan pesan agar manusia tidak semena-mena terhadap alam semesta. Ia mengingatkan pentingnya memahami empat unsur dalam diri agar tidak merusak keseimbangan. Senada, Syamsul menyoroti eksploitasi sumber daya di Merangin yang berdampak pada kerusakan lingkungan.
“Air kita sudah keruh dan tak lagi asyik bagi kehidupan. Mantagi menjadi renungan baru untuk introspeksi,” ujarnya.
Ide Bagus yang memerankan Jamal melihat air sebagai sudut pandang utama film ini. Ia menilai proses kreatif film tumbuh seperti air mengalir dan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari cerita. Sementara Ainun, pemeran Nawang, menyebut perannya penuh tantangan emosional namun memberi pengalaman berharga.
Poster film Mantagi pun sarat makna filosofis. Visualnya penuh misteri, menggambarkan lapisan-lapisan cerita dalam satu wajah seolah menyiratkan bahwa manusia menyimpan banyak sisi dalam dirinya, sebagaimana sungai yang mengalir membawa beragam kisah dari hulu ke hilir.
Ditujukan untuk penonton usia 17 tahun ke atas, film ini tak hanya membidik layar lokal, tetapi juga menargetkan festival film di luar daerah. Usai Lebaran, tim berencana menggelar pemutaran keliling sebagai bagian dari upaya menyebarluaskan pesan reflektifnya.
Mantagi: Air dan Manusia bukan sekadar tontonan, melainkan ajakan untuk kembali menengok diri sejauh mana manusia menjaga air, dan sejauh mana air masih menjaga manusia.(*)
Sumber: Sekato.id










Discussion about this post